19 September 2008

Filled Under:

Nabi Muhammad sebagai Pedagang

Nabi besar Muhammad SAW lahir hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal 571 masehi dalam keadaan yatim dari keturunan bani Hasyim. Beliau tidak lahir di tengah-tengah bangsa Mesir yang sudah terkenal sebagai nenek moyang peradaban sejak abad ke-40 SM. Beliau juga bukan lahir dari bangsa Israel, daerah asal para Nabi besar sebelumnya, mulai dari Musa, Daud, Sulaiman dan Isa.

Nabi tidak lahir di Yunani, yang telah melahirkan filsuf-filsuf dunia seperti Plato, Aristoteles dan Socrates; atau juga tidak lahir di India atau Cina, yang terkenal memiliki peradaban yang tinggi sebelum kedatangan Islam. Melainkan, beliau dilahirkan di tengah-tengah suku Quraisy yang jahiliah di Arabia.

Tidak seperti provinsi Riau yang kaya dengan sumber daya alam, di bawah minyak di atas minyak, Arabia adalah wilayah padang pasir yang tandus, dan waktu itu belum ditemukan minyak. Walau jazirah Arabia dikelilingi laut di ketiga sisinya, namun wilayah ini nyaris tidak memiliki sungai, kecuali sungai-sungai kecil. Dengan kondisi alam seperti ini kegiatan ekonomi terbatas pada usaha pertanian, peternakan dan perdagangan.

Sebelum datangnya Islam kondisi jazirah Arabia sangat terkebelakang. Sebahagian besar penduduknya tidak mengenal pendidikan. Karena keterbelakangan dan kebodohan inilah mereka disebut masyarakat jahiliyah. Mereka hidup secara nomaden dari suatu tempat ke tempat lain. Merampok, berjudi dan minum khamar adalah pekerjaan sehari-hari mereka.

Masyarakat jahiliyah terdiri dari kelompok-kelompok politik dan kesukuan dengan kepercayaan yang berbeda-beda. Tiap pihak dan kelompok selalu bertengkar, dan sistem yang berlaku adalah hukum rimba. Pendek kata, tidak ada sesuatu yang membanggakan dari masyarakat jahiliyah dilihat dari segi ekonomi, politik, budaya, apalagi moral. Tetapi uniknya, di tengah kelompok masyarakat seperti inilah Nabi Muhammad lahir dan tumbuh jadi pedagang yang sukses, kemudian menjadi Nabi, pemimpin dan negarawan Islam.

Walau wilayahnya tandus, tetapi letak jazirah Arabia sangat strategis, berada pada posisi pertemuan tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Hal ini dimanfaatkan penduduk untuk berdagang. Pasar Ukaz di Makkah menjadi pusat perdagangan seluruh Arab, menjadi stasiun perhubungan antara Dunia Timur dengan Dunia Barat, antara Yaman di selatan dan Syam di utara, hingga Persi dan Ethiopia di Afrika.

Salah seorang dari pedagang itu adalah paman Nabi, Abdul Muthalib, yang bertanggungjawab memelihara Muhammad sejak berusia delapan tahun. Walau Abdul Muthalib cukup disegani masyarakat Quraisy, tetapi dari segi hidupnya jauh dari berkecukupan. Untuk meringankan beban pamannya, Nabi sering mengikuti kegiatan pamannya berdagang, kadang-kadang hingga ke negeri yang jauh seperti Syam (di Syria sekarang). Mengikuti khafilah dagang hingga Syam ini sudah dilakoni Nabi waktu beliau masih berusia 12 tahun.

Tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang beliau dikenal sangat jujur, tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya. Bukan seperti penjual bensin di hampir semua SPBU yang ada di Riau atau penjual gas yang sering mengurangi takaran, beliau tidak pernah mengurangi takaran dan timbangan. Nabi juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab dan kabul. Karena kejujurannya tersebut serta integritasnya yang tinggi, beliau diberi gelar al-Amin, yaitu orang yang terpercaya, atau orang yang bisa dipercaya.

Kejujuran Muhammad dalam berdagang ini menarik perhatian seorang pedagang kaya raya yang juga janda bernama Siti Khadijah. Ia meminta kesediaan Muhammad untuk memutarkan modal yang dimilikinya. Kepercayaan yang diberikan Khadijah tidak disia-siakan oleh Muhammad, terbukti beliau berhasil melipat-gandakan kekayaan Khadijah. Selanjutnya hubungan keduanya tidak berhenti di situ saja, tetapi diteruskan dengan hubungan perkawinan. Nabi pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang waktu itu berusia 40 tahun.

Suatu hal yang istimewa dari cara Nabi berbisnis ialah bahwa yang dicari tidak laba semata, melainkan terjalinnya hubungan silaturrahmi dan keridhaan dari Allah SWT. Bagi mereka yang tidak sanggup membayar dengan kontan, padahal kondisinya sangat membutuhkan, Nabi memberi tempo untuk melunasi. Tidak jarang terjadi, bagi yang betul-betul tidak sanggup membayar, dibebaskan dari utang.

Tetapi kejujuran Nabi dalam berdagang dan bantuan beliau pada mereka yang lemah dan terlilit utang bukannya membuat beliau rugi. Dalam kenyataan, semua pihak senang melakukan transaksi bisnis dengan beliau. Karena itu, walaupun tanpa menggunakan cara-cara licik dan melakukan penipuan, keuntungan yang beliau raih jadi lebih besar. Sejarah mencatat bahwa Muhammad adalah pedagang paling sukses dalam masyarakat Quraisy waktu itu. Bagi kita yang hidup pada masa sekarang, yang bisa dipetik dari pengalaman Rasulullah ialah bahwa pedagang yang jujur itu beruntung, bukan buntung.

Sebagai pedagang yang sukses, beliau pernah berkata bahwa "Sembilan dari sepuluh sumber rezeki berasal dari perdagangan". Apa yang disampaikan beliau tersebut bukanlah kata-kata kosong belaka. Kenyataannya, sepanjang sejarah manusia dapat dibuktikan bahwa tidak ada bangsa yang bisa menapak maju tanpa didukung oleh pedagang-pedagang yang tangguh, jujur dan selalu bekerja keras. Jika perdagangan maju, ia akan menciptakan permintaan terhadap barang-barang dan jasa, baik pertanian maupun industri atau jasa. Karena kegiatan perdaganan ini sangat besar jasanya dalam menciptakan kesejahteraan dalam masyarakat, konon Nabi pernah berucap bahwa perdagangan bisa mendatangkan keuntungan lebih besar dari kegiatan perang!

Saya kurang begitu pasti bagaimana pandangan Nabi jika para pedagang berebut kekuasaan di partai politik, seperti yang disinyalir Akbar Tanjung baru-baru ini. Tetapi yang jelas Nabi tidak pernah menganggap pekerjaan sebagai pedagang sebagai profesi yang hina.

Suatu hal yang menarik untuk dipertanyakan: Kalau Nabi Muhammad saja tidak merasa hina menjadi pedagang, mengapa masyarakat Riau yang dulunya sering berdagang ke Malaysia dan Tumasik (Singapore sekarang) kurang berminat menggeluti profesi sebagai pedagang, dan lebih suka berdesak-desak menjadi PNS? Padahal, katanya, Melayu identik dengan Islam, sedang Hadis mengatakan bahwa "Sembilan dari sepuluh sumber rezeki berasal dari perdagangan". Ada yang bisa menjawab?.(Deliarnov, dosen Unri juga di Program Pasca-Sarjana UIN Suska Riau. )

1 comments:

  1. Budaya berdagang mulai kembali bersinar di indonesia
    terutama di pulau jawa

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan bijak, tapi jangan spam !