Showing posts with label Sepeda. Show all posts
Showing posts with label Sepeda. Show all posts

01 November 2012

,

Tips Memilih Jenis Sepeda yang Tepat


Alhamdulillah, kini kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan semakin meningkat. Sedikit banyak mulai ditandai dengan kegemaran masyarakat bersepeda yang kian meningkat. Dewasa ini bersepeda tidak lagi hanya menjadi olahraga kala senggang, namun telah menjadi gaya hidup. Kini banyak yang mulai menjadikan sepeda menjadi alat transportasi utama, baik hanya untuk sekedar berkeliling lingkungan tinggal, ke kampus/sekolah maupun untuk ke kantor (bike to work/commuter).






Bersepeda sangat baik bagi kesehatan jantung dan ampuh membakar kalori. Anda dapat membakar hingga 200 kalori hanya dengan bersepeda santai; atau sekitar 450 – 600 kalori untuk kegiatan bersepeda yang lebih serius (seperti roadbike, up hill, komuter dll). Bersepeda sangat menarik karena tidak hanya bermanfaat bagi jasmani saja, tetapi anda juga dapat berinteraksi sosial dalam komunitas- komunitas.

Terkadang bagi orang yang awam seperti kita akan bingung harus memilih dan membeli sepeda yang seperti apa? Jangan sampai terbawa napsu membeli sepeda spesifikasi tinggi berharga mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan. Beragamnya jenis sepeda yang ada di pasaran pada dasarnya disesuaikan dengan medan yang akan dilalui sepeda (off road atau jalan raya). Melalui tulisan ini saya akan coba membantu anda untuk menemukan sepeda yang tepat sesuai dengan yang anda butuhkan.

Sebelum membeli sepeda, coba tanyalah pada diri sendiri:
  • Akan bersepeda di jalan yang seperti apa? (jalan aspal semua atau off road?)
  • Tujuan anda bersepeda untuk apa? (untuk senang-senang saja/fun bike? Olahraga? Untuk komuter/ke kantor/sekolah?)
  • Posisi bersepeda seperti apa yang nyaman untuk anda? (tegak? Sedikit bungkuk? Ataukah gaya sepeda balap?)
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan membantu menentukan jenis sepeda yang tepat untuk anda. Berikut adalah jenis-jenis sepeda yang dikelompokkan berdasarkan jalan yang dilalui:

Sepeda Gunung/MTB/Mountain bikes

Sepeda gunung cocok untuk yang suka berpetualang di alam bebas, dirancang untuk trek offroad/jalan tanah bebatuan. Jenis sepeda ini menggunakan lebih banyak gigi untuk dapat mudah melibas tanjakan dan memiliki suspensi depan dan belakang untuk meredam kejut.


Competitive XC : Sepeda ini biasanya tergolong ringan untuk jenis MTB, merupakan sepeda yang ringan untuk cross country (offroad). Competitive XC biasa di gunakan untuk medan offroad yang tidak terlalu menurun, sangat sesuai untuk yang menyukai kecepatan dan kekuatan dalam menjelajah medan offroads. 



XC Trail : Jenis sepeda yang lebih di buat untuk medan offroad yang lumayan ektrim, sepertinya turunan yang agak tajam disertai banyak tikungan, suspensi depan dan belakang biasanya lebih empuk dibandingkan dengan Competitive XC, suspensi depan dan belakang biasanya juga dapat di atur skala keras dan lembutnya. 

All Mountain : MTB yang kelihatan kekar di banding jenis XC lainnya, mempunyai suspensi yang lebih besar dan kuat. Sepeda ini di peruntukan untuk rider yang menyukai medan offroad yang banyak lokasi jumping. Sepeda ini cocok untuk downhill ringan dan atraksi dalam bersepeda.

Freeride/Downhill : Ini sepeda yang sering kita lihat dalam kejuaraan dunia downhill, sepeda yang sangat berat untuk jenis MTB. Frame sepeda ini memang sangat berat karena downhill yang ektrim memerlukan kestabilan yang tinggi. Suspensi sepeda jenis ini mempunyai trafel depan(panjang suspensi) lebih panjang di banding sepeda MTB lain, dan yang pasti suspensi belakang adalah wajib pada sepeda tipe ini. 


Progresive / Dirt jumper Lebih di perutukan untuk rider yang menyukai showoff skill atau mempertontonkan dan mengasah kemahiran dalam atraksi sepeda. Dengan bentuk frame yang terkesan lurus dari depan dan belakang. f. Recreational XC Merupakan sepeda XC untuk medan cross contry yang ringan, ini merupakan sepeda yang banyak di pakai MTB saat ini dalam offroad ringan dan cross coutry.


Road Bike / Sepeda Jalan Raya

Sesuai dengan namanya, sepeda ini memang dirancang khusus untuk digunakan pada jalan keras/jalan raya. Jenis sepeda ini menggunakan ban yang lebih tipis dibandingkan yang digunakan pada sepeda gunung agar nyaman untuk digunakan di jalan keras/aspal. Jenis sepeda ini sangat baik untuk touring atau bersepeda jarak jauh (long distance).


Competitive Road Merupakan sepeda balap yang di peruntukan untuk kompetisi balap, dengan berat yang sangat ringan total berat sepeda bisa mencapai 5kg, Bagi yang menyukai bersepeda sehat jalan aspal ini merupakan salah satu pilihan.

Endurance Road Merupakan sepeda balap dengan frame yang lebih tahan terhadap jalan yang tidak halus semisal paving blok, sepeda dengan tipe ini cocok untuk yang meyukai tipe road yang tidak hanya aspal halus tapi jalan aspal yang jelek. Selain ringan cocok bagi penggemar kecepatan, sepeda jenis ini layak di jadikan pilihan untuk bersepeda di jalan non aspal.

TT (time trial) Inilah sesungguh sepeda balap, sangat ringan dengan aero dinamis yang di desain dengan teliti untuk terpaan angin. Sepeda balap ini banyak di gunakan untuk kompetisi Time Trial / Thriatlon yang menuntut kecepatan. 

Single speed. Sepeda dengan gir tunggal, cocok bersepeda kemana saja. Sepeda dengan single speed ini tidak mempunyai pengaturan kecepatan, menjadikan sepeda ini simple dan prakstis terutama untuk yang tinggal di perkotaan. 

Commute Merupakan Sepeda yang di desain gabungan dari sepeda balap kelas kompetisi dan kebutuhan sehari-hari. Banyak vendor sepeda menyesuaikan mulai dari handle bar (stang), hingga komposisi ban dan rasio gir. Dari berbagai diskrisi sepeda diatas kita mulai ada gambaran sepeda apakah yang cocok untuk kebutuhan bersepeda kita baik untuk kesehatan atau memang khusus untuk kompetisi.


Sebenarnya tidak begitu penting apakah sepeda mahal dengan sepsifikasi atlit ataukah sepeda yang sederhana. Karena yang terpenting adalah kemampuan fisik pesepedanya.


Bahan tulisan 1, 2, 3
Sumber gambar, 1, 2, 3, 4

31 October 2012

,

UI, Jalur Sepeda Terpanjang di Dunia


Wilayah Jakarta dan sekitarnya terkenal dengan udara terik, debu, asap kendaraan, dan suara hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya.

Jakarta dibentengi oleh beton-beton yang mengalahkan pepohonan. Namun di dekat Jakarta, tepatnya di Depok, masyarakat bisa datang ke Kampus Universitas Indonesia (UI) untuk menghirup udara segar.

Luas lahan kampus ini mencapai 320 hektare dengan atmosfer green campus karena hanya 25 persen lahannya yang digunakan sebagai sarana akademik, riset, dan kemahasiswaan. Sedangkan 75 persen merupakan area hijau berwujud hutan kota, di mana di dalamnya terdapat delapan danau alam.

Sangat cantik. Sebuah area yang menjanjikan ketenangan dan keasrian untuk mendukung nuansa akademik. Maka tak heran, di setiap fakultas yang berjumlah 12 dan banyak ditumbuhi pepohonan rindang, berhasil mengundang banyak mahasiwa untuk duduk-duduk di bawah pohon sambil membaca buku, membuka latop, dan bercengkerama.

Bahkan di UI, tersedia jalur lintasan sepeda terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai 25 kilometer. Sungguh menyenangkan berkeliling Kampus UI yang kental nuansa alam itu.

Apalagi, di sana ada juga perpustakaan dengan perpaduan gaya arsitektur yang unik seperti prasasti dan dinding terbuat dari batu dan kaca yang berisi tulisan-tulisan dari seluruh dunia.

Pepohonan besar berusia 30 tahunan dengan diameter lebih 100 cm juga seolah menyambut kedatangan setiap tamu UI. Pohon-pohon ini memang sengaja tidak ditebang pada saat pembangunan kompleks UI.

Keteduhan ini melengkapi keindahan tepi danau yang asri. UI membuat taman untuk membiasakan agar orang Indonesia lebih suka pergi ke taman ketimbang ke mal.

Pohon Raksasa

UI juga dimegahkan dengan keberadaan 10 pohon raksasa. Keberadaan pohon ini ditandai dengan penandatanganan prasasti relokasi pemindahan pohon African Baobab ke-10 dari Subang, Jawa Barat, pada 6 Mei 2010. Pemindahan pohon ini merupakan rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional Ikatan Alumni UI (Iluni) ke-6 dan Festival UI “Untuk Indonesia” pada 1-2 Oktober 2011.


Pemindahan pohon ini menandai kontribusi UI dan Iluni dalam membangun peradaban serta masa depan bangsa ke depan. Pohon ini tidak hanya merupakan simbol bahwa UI dan Iluni akan menjadi motor bagi lahirnya pemimpin bangsa yang amanah dan menyejahterakan rakyat, tapi juga akan dikembangkan sebagai pohon masa datang.

Peristiwa pemindahan (diangkat dari akarnya) terhadap 10 pohon raksasa pertama di dunia ini juga menjadi upaya nyata UI dan Iluni untuk mendorong masyarakat Indonesia yang sehat dan harga pangan yang terjangkau. Mengingat, perguruan tinggi semestinya berada di posisi terdepan dalam upaya mengatasi persoalan negeri.

“UI sama sekali tidak mengeluarkan dana untuk proses relokasi pohon ini karena UI melibatkan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dan alat-alat berat dengan menggunakan dana CSR (Corporate Social Responsibility),” kata Devie Rahmawati, Sekretaris Rektor UI, kepada SH baru-baru ini.

Pohon yang dikenal masyarakat dengan istilah Pohon Ki Tamblek ini memiliki diameter rata–rata 3,5-4,7 meter dengan berat 50-120 ton.

Bahkan, salah satu dari 10 pohon ini sudah terkena petir tapi masih bisa tumbuh dan usianya kini sudah 160 tahun. Pohon-pohon tersebut juga akan dijadikan bahan penelitian di bidang ilmu kedokteran dan farmasi herbal, biologi, dan pangan, serta riset lain.

Apalagi, UI membuka program Magister Herbal pertama di Indonesia. Nanti, UI akan membuka program Doktor Herbal pertama di Indonesia, dengan harapan jangan sampai China yang menjadi kiblat pengobatan herbal dunia.

Berdasarkan penelitian ilmuwan dari Jerman, pohon tersebut mengandung vitamin C yang sangat tinggi bahkan enam kali lebih banyak daripada yang terkandung dalam jeruk, dan kadar kalsiumnya tiga kali lebih banyak daripada susu, serta mengandung kadar mineral yang sangat tinggi.

Daun pohon ini dapat digunakan untuk bahan lalap atau sayur. Kulit pohon dapat digunakan untuk membuat tali, bahkan pakaian.

Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipakai sebagai obat tradisional. Di Eropa, buah pohon tersebut diterima sebagai produk alam dari Afrika yang kemudian daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dimanfaatkan sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan makanan olahan lainnya.

Dengan khasiat yang luar biasa tersebut, pohon ini berpotensi menjadi pohon masa datang, terutama jika dikaitkan dengan isu pemanasan global, perubahan iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat.

Untuk itu, UI dan Iluni akan menggandeng banyak pihak untuk mengembangkan riset terapan yang akan menjadikan hasil pohon ini untuk kepentingan publik yang luas.

Sejak periode Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri, sudah ditanam 90.000 pohon di kampus ini. UI juga mempunyai arborectrum (museum tanaman). Di sini dirawat berbagai jenis tanaman langka dari seluruh Indonesia, agar menjadi arena untuk melakukan penelitian yang sangat berguna. (CR-24)

Sumber artikel B2W-Indonesia
Sumber gambar 1 & 3, Foto Pohon

11 July 2012

,

Pengalaman Bike2Work Pertama



Gak kerasa, ternyata saya sudah bersepeda ke kantor 2 bulan dan (masih) fine-fine aja, Alhamdulillah hehehe. Bersepeda kini sudah jadi hoby, kebiasaan dan keharusan, sampai saya berpikir apakah sepeda itu termasuk psikotropika juga. Tapi yang pasti sepeda itu adalah racun dunia, melebihi wanita, setidaknya bagi saya. Sepeda juga termasuk terapi pemulihan jiwa untuk membakar kalori stress yang timbul dari problematika yang ada di kantor, rumah dan bahkan asmara hehe.

Sebagai warga hybrid atau kalian juga bisa sebut saya mutant (warga Depok – Jakarta) yang pasti sudah “eneg” banget sama kemacetan Jakarta, pastinya pengen punya solusi untuk hadapi kemacetan dengan murah, santai dan menyenangkan serta harus keren juga. Trus, pas lagi menikmati “ritual” kemacetan pagi, saya selalu melihat para pengendara sepeda yang asik menembus kemacetan melalui trotoar tepat di samping saya dan itu juga berlaku saat arah pulang. Jreng, tiba-tiba langsung punya ide buat Bike2Work (baca-bersepeda ke kantor) juga, tapi punya sepeda aja enggak, inget terakhir sepedanya di tuker sekarung abu gosok buat si amak cuci piring heheh. Sesampainya di rumah saya langsung browsing cari informasi tentang semua hal yang terkait dengan Bike2Work, tentang perlu apa saja, sepeda yang gimana, kendala dan sampai pada komunitas apa saja yang ada.
Rute-rute awal bersepeda saya adalah sepanjang jalan margonda raya, biasanya balik kerumah lagi itu jam 6.30an untuk kemudian langsung ngantor
dulu saya tuh kalo diboncengin ya begini, suka ketiduran hahaha
Oh iya, sebenarnya saya memang sudah sangat gandrung dengan sepeda sejak kecil. Ingat dulu dibelikan sepeda sama mama waktu abis sunatan yang sepedanya tuh dipake untuk ke sekolah tiap hari, bahkan boncengan sama tetangga. Dulu juga kalo di suruh sama emak (sebutan nenek di rumah) untuk ke warung harus naek sepeda atau lepasin burung juga pake sepeda, pokoknya subhanalloh asyik sekali kala mengenang masa-masa dulu. Dulu juga sempet punya sepeda MTB pertama dapet dari undian kantor si bapak (panggilan kakek). Sampai lupa, sebenarnya tuh kesenangan saya bersepeda itu sudah di mulai sejak TK, ketika itu bapak (kakek) baru pension dan beliau selalu antarkan saya ke TK (dan berlanjut hingga SD kelas 2) naik sepeda hijaunya, merek federal. Entah bagaimana saya bisa gambarkan kebahagiaan saya saat itu, jujur pada saat menulis bagian ini saya menangis haru bersamaan dengan adzan shubuh yang mengalun menembus telinga dan langsung menghujam hati dari 2 speaker masjid yang ada di depan rumah. Bapak selalu mengantar saya ke sekolah dan ke mana saja, termasuk ke pasar, bahkan dulu kami pernah ditabrak motor dan jatuh bersama. Saat itu kami sama-sama luka dan harus ada yang dijahit. Bapak, minta maaf ya atas segala kenakalan dan kedurhakaan ary. (tetep masih nangis haru, sambil bangunin bapak dan adik berangkat ke masjid).

Nih sepeda saya, element police orlando putih
Setelah hunting cukup lama. Akhirnya saya putuskan untuk membeli sepeda dari salah satu toko sepeda online di daerah bekasi, ngecek barangnya abis pulang latihan silat di Taman Mini, jadi sekalian. Merek sepedanya Element seri POLICE Orlando, harganya cukup terjangkau, meskipun dengan spesifikasi seadanya tapi dirasa cukup hanya untuk keperluan commuter (perkotaan) saja. Sepedanya sampai malam, dikirim pake mobil.

Hasil Tracking GPS dari RUTE yang saya lewati saat ke kantor
Hari pertama ada sepeda di rumah, itu sepeda saya pelototin dari ujung ke ujung, di elus-elus, di elap-elap dan bakda shubuh langsung dipakai keliling kampung. Nah di awal-awal punya sepeda lagi, saya jadi punya kebiasaan baru yakni bersepeda keliling kampung, kompleks dan bahkan sampai putari jalan margonda raya setiap habis shubuh (kira-kira sejauh 10-12KM). Setelah merasa cukup beradaptasi dengan sepeda dan jalan (sekitar 2 minggu), saya langsung bike2work ke kantor di slipi untuk pertama kalinya. Sebenarnya agak memakasakan dan ditentang habis-habisan oleh keluarga mengingat riwayat atsma yang pernah saya derita. Perjalanan bike2work pertama berhasil dilewati dengan lancar. Perjalanan Depok-Slipi (lewat Pasar Minggu-Pancoran-Gatot Subroto) dapat ditempuh hanya dalam waktu 90 Menit, hampir sama jika menggunakan sepeda motor, hanya saja ini JAUH LEBIH MENYENANGKAN. Sekedar informasi tambahan, jarak dari Depok-Slipi jika saya trace dengan GPS adalah sekitar 31,7KM atau 63,4KM untuk pergi-pulang.


Di kantor ada sahabat saya (Riza) yang bike2work lebih dulu. Dia bike2work relatif lebih dekat, dari manggarai ke slipi saja, meskipun selalu pulang ke rumah ayahnya di citayem (masih sekitar 10KM dari rumah saya) setiap jum’at. Nah, setiap jum’at kami selalu bareng ke Depok, tapi berpisah di depan UI. Jika bareng Riza, rute yang dilalui jauh lebih jauh (SLIPI-Palmerah-Senayan-Mampang-Warung Buncit-Ciganjur-Depok UI). Tapi sayangnya Riza kini sudah tidak bersepeda, ia memilih melanjutkan kebiasaan lamanya untuk berjalan kaki dari manggarai ke kantor dengan alasan “gue lebih dapet olahraganya ya”.
Saya kiri dan Riza (kanan), sahabt sejati
Meski kini bike2work sendiri, saya tetap menikmatinya. Sebenarnya ada hal lain yang begitu menggugah hati saya, yaitu ketika pesepeda lainnya saling bertemu, mereka akan saling menyapa, berjabat tangan dan berpelukan hangat seakan kawan lama. Saling membantu ketika ada yang bermasalah dengan sepedanya. Percakapan yang sering kali saya temui adalah menanyakan kabar, dari mana dan kapan bareng lagi. Pernah satu saat saya menyapa dengan bel pesepeda yang jauh di depan saya (di daerah stasiun lenteng agung), tahukah anda, dia berhenti dan menunggu saya untuk kemudian memberikan salam dan jabat tangan hangat nan erat, lalu kami konvoi dan berpisah di UI. Dia bersepeda lebih jauh dari saya (cilodong –sunter) setiap hari. Dia mengajak saya untuk berangkat bareng bersama komunitas bike2work Depok, Rodex (Rombongan Depok).

Komunitas sepeda yang saya ikuti, jika ditanya masalah ini saya bingung. Sebenarnya sangat ingin ikut dan gowes bersama bareng Rodex, tapi sayang saya belum pernah bertemu. Entah saya yang kepagian, kesiangan ataukah salah tempat kumpul. Niatnya sih ingin bergabung bersama klub sepeda “jamaah” yang katanya rutin bersepeda tiap minggu. Sementara belum tergabung bersama komunitas sepeda , setiap akhir pekan saya bersepeda bersama dengan teman-teman sesama penggiat #IndonesiaTanpaJIL Depok ke trek mangkuk dan nyamuk di Universitas Indonesia.
Menjajal trek nyamuk dan mangkuk di Hutan Universitas Indonesia
Ah sudahlah, memang sebenarnya sama sekali gak niat nulis (loh tapi kok panjang ya? Hehe). Ya sudah mari kita simpulkan bahwa secara keseluruhan bersepeda itu sehat dan asyik dan bersepeda ke kantor itu asyik, sehat, hemat dan dapat menyelamatkan anda dari macet jauh lebih baik dari kendaraan lainnya. Salam gowes bro !

11 Juli 2012, menjelang shubuh hingga menjelang keberangkatan saya nyoblos #HidayatDidik di salah satu TPS di Johar Baru.

06 July 2012

Bersepeda di Hutan UI, Trek Mangkok dan Nyamuk



Trek Sepeda di Hutan kota UI pasti sudah sangat akrab di telinga para goweser MTB sejagad (lebay haha), khususnya mereka yang gemar bermain lumpur dan "nge-garot" jalan tanah (off road). Sebaliknya ini adalah trek alam pertama yang kini sudah mecuri hati dan buat saya keracunan dan "nagih" untuk kembali setiap weekend. Tempatnya ada di area hutan kampus Universitas Indonesia (UI) yang notabene dekat dengan rumah, tepatnya ada di dekat Fakultas Teknik UI. Menurut keterangan dari goweser yang @juragankambing berhasil wawancarai (#gaya koran), trek mangkuk dan Nyamuk dibangun oleh Komunitas Roam (Rombongan Anak Mangkuk UI) di awal 2006 silam. "Mereka yang beresin dan buka jalannya", ujar @irvankings via twitter. Saya sendiri tau trek ini dari temen-temen di forum, padahal tiap selalu muterin UI tiap sabtu.
Start trek mangkok hutan UI - (c) http://dhanichagi.wordpress.com
Di hutan kota UI, ada dua trek sepeda, Mangkuk (bowl) dan Nyamuk. Nama mangkuk sendiri diambil dari salah satu bagian trek yang berbentuk seperti mangkuk, trek ini relatif lebih pendek dibanding trek Nyamuk (hanya sekitar 300M), tapi tetap saja tidak bisa dianggap remeh.Trek ini terdiri dari jalan tanah menurun, berbelok, menurun dengan gundukan tanah yang sangat memacu adrenalin, pokoknya sangat tepat bagi yang suka bersepeda DJ (Dirty Jump). Nah, trek yang paling membuat saya ketagihan adalah trek Nyamuk, trek XC (Cross Country) sepanjang 3,2 KM yang rutenya masuk berputar-putar dalam hutan (didominasi pepohonan karet). Di "Nyamuk" kita bisa menikmati sensasi bersepeda dia dalam hutan, menikmati jalan tanah yang berlumpur nan licin, belokan tajam, menemui pohon tumbang di tengah trek atau bahkan menikmati terpeleset masuk semak dan menabrak pohon (#hehehe). Untuk trek nyamuk, sebaiknya anda perhatikan papan penunjuk arah yang ada di dalam trek, jangan sampai hanya berputar-putar dalam hutan saja.
Foto bersama di garis finish, depan lapangan futsall. Kaos #IndonesiaTanpaJIL , Salam satu jari !
Foto bersama di garis finish, depan lapangan futsall. Kaos #IndonesiaTanpaJIL , Salam satu jari !
Untuk dapat mencapai trek-trek ini kita bisa melalui beberapa jalur.

  • Masuk lewat gerbang utama UI. Belok kanan di putaran pertama (Fakultas Psikologi), kemudian jalan lurus ikuti jalan hingga sampai Fakultas Teknik. Selanjutnya ambil kanan setelah FT. Garis start ada di sekitar situ (kurang lebih 200 M) dan biasanya kita akan bertemu dengan pesepeda-pesepeda lainnya yang biasa kumpul di depan pintu masuk trek (biasanya ramai di sabtu-minggu ).
  • Jika anda membawa mobil, bisa parkir di lapangan futsall dekat Fakultas Psikologi, nah biasanya para goweser juga berkumpul di sana.
  • Atau bisa juga sambil berputar di jalur sepeda commuter di sisi jalan UI
Singkatnya, perpaduan trek Mangkok dan Nyamuk sangat disarankan untuk goweser pemula sebelum mencicipi trek Rindu Alam atau trek-trek alam yang jauh lebih menantang lainnya. Selain itu yang tidak kalah penting adalah memastikan kondisi fisik dan sepeda anda dalam kondisi prima. Salam gowes ITJ XC !