16 November 2012

Filled Under: , , ,

Aku & Baitul Maal wat-Tamwil (BMT)

Ketertarikan saya pada ekonomi syariah dan Baitul maal wat-Tamwil pada awalnya terjadi seusai mendengarkan kajian dan bedah buku “Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham” yang dibawakan langsung oleh penulisnya Gurunda Muhaimin Iqbal. Dalam kesempatan itu dijelaskan secara gamblang mengenai ekonomi islam, dinar dirham, kegagalan sistem ekonomi berbasis ribawi dan bagaimana cara mengembalikan kemakmuran dan kejayaan umat Islam dengan  dinar dan dirham. Penjelasannya begitu jelas dan mengena sehingga semakin menghebatkan rasa keingintahuan saya tentang ekonomi syariah.

Untuk memuaskan keingintahuan saya terhadap ekonomi syariah, saya mulai berburu segala buku dan literatur yang berkaitan dengan kajian ekonomi dan perbankan syariah. Beberapa kali rela keluar kota wara-wiri keluar masuk masjid, gedung, bank dan kampus yang di dalamnya diadakan seminar/kajian dan pelatihan ekonomi syariah.

Alhamdulillah, Allah azza wa jalla memberikan saya peluang untuk belajar dan bekerja secara langsung pada sebuah Baitul Maal wat-Tamwil (BMT) di Depok. Baitul Maal wat-Tamwil itu sendiri dapat diartikan sebagai lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip syariah (hukum Islam) yang bertujuan untuk menumbuh-kembangkan bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat kecil. Sebuah lingkungan kerja yang sangat nyaman dan Islami. Lingkungan kerja yang dilandasi prinsip keikhlasan, kebersamaan dan pengorbanan, suatu hal yang mungkin agak sulit ditemui pada organisasi bisnis biasa. Sebuah tempat yang menjadi jalan hidayah saya untuk mengenal Islam lebih dalam lagi.

Masa-masa awal kegiatan saya di BMT tidaklah dapat dikatakan “enak”, adalah masa-masa yang cukup sulit, masa-masa perjuangan bagi kami (saya dan pengurus). Saat itu BMT kami tengah mengalami kerugian yang cukup besar disebabkan oleh tingginya tingkat Non Performing Finance (Kredit bermasalah), tata-kelola administrasi yang belum baik, kekurangan tenaga dan beberapa masalah lainnya. Masalah utama penyebab ini semua sebenarnya adalah ketiadaan karyawan, sehingga pembiayaan-pembiayaan yang telah digulirkan kepada nasabah tidak dapat tertagih semua. Apalagi mengingat belum semua nasabah memiliki kesadaran yang tinggi untuk membayar hutang-hutangnya, seakan mereka berpikir “tidak ditagih, ya tidak usah bayar”. Padahal pembiayaan yang diberikan diikat oleh sebuah akad/perjanjian yang tidak hanya sah di mata hukum positif, melainkan juga kepada Allah. Seperti yang dijelaskan dalam hadist berikut : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyirkah, selama salah seorang dari keduanya tidak menghianati yang lainnya. Jika salah seorang diantara keduanya mengkhianati yang lain, maka Aku keluar dari persyirkahan tersebut” (HR. Abu Dawud dan Hakim). Namun, masalah yang ada tidak lantas membuat kami putus asa, kami terus berikhtiar dan bertawakkal hingga tanpa terasa satu demi satu masalah dapat teratasi. Bahkan kami berhasil membangun aplikasi akuntasi BMT sendiri.

Kata-kata saktinya adalah janji Allah dalam Al-Qur’an: “fainna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al usri yusro/Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah[94]: 5-6)

“Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (HR. Thabrani).

BMT berbeda dengan lembaga keuangan dan perbankan konvensional. Sebuah BMT didirikan dengan tujuan yang tidak hanya semata-mata mengejar pencapaian laba tinggi saja, namun pembinaan akhlak dan akidah, edukasi tentang ekonomi syariah dan kewirausahaan juga menjadi prioritas. Melalui keberadaanya, sebuah BMT diharapkan mampu menjalankan fungsi “community development” atau fungsi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, sehingga terbentuk masyarakat muslim bermental wirausaha rabbani yang bertakwa, tangguh, jujur, amanah dan berdaya saing.

Permasalahan yang umum ada pada BMT menurut apa yang saya alami selain karena masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah, juga disebabkan karena terkadang dirasa cukup sulit untuk menemukan mitra/nasabah yang amanah yang jika kita salah dalam memilihnya akan mengakibatkan tingginya tingkat pembiayaan bermasalah. Banyak nasabah yang pada awalnya baik dan lancar dalam membayar, namun menghilang menjadi tidak amanah secara tiba-tiba. Untuk itu dirasa sangat penting untuk tidak mengabaikan prinsip prudential banking (prinsip kehati-hatian) dalam seluruh kegiatan penyaluran dana. Untuk itu kami terus berbenah dan belajar dari kesalahan serta menguatkan apa yang sudah dirasa cukup baik.

Hal yang sangat membahagiakan bagi saya adalah saat seseorang dapat terbantu dan menjadi berdaya secara ekonomi dengan kehadiran BMT. Berharap melalui ini, kami dapat masuk ke dalam sabda Rasulullah SAW :”… Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani).

"Barangsiapa meringankan beban kehidupan duniawi bagi saudaranya, niscaya ALLAH akan meringankan beban kehidupannya di akherat kelak" (HR Muslim)

Tidak terasa sudah setahun lebih saya bergabung dan dengan semuanya (karyawan dan pengurus) serasa seakan seperti saudara kandung, begitu erat, begitu dekat dalam dekapan ukhuwah. Di akhir tulisan ini saya mengajak agar kita dapat menyatukan langkah untuk terus mempromosikan sistem ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi dunia agar dapat mewujudkan kembalinya kesejahteraan, kemakmuran dan kejayaan Islam. Wallahu a’lam bisshawab. [MAK]


+++
Depok, 10 April 2010
Ditulis ulang dari tulisan saya pada iB LifeStyle
Aku dan BMT — iB LifeStyle (http://ib.eramuslim.com/2010/04/15/aku-dan-bmt/)

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan bijak, tapi jangan spam !